Demam Berdarah Dengue (DBD) di 2019: Mari Makin Perhatian, Healthies

Haii U~

Menyebut “penyakit DBD” atau seringnya “Demam Berdarah” saja, terasa ‘biasa’ dan bahkan ‘lewat’ di telinga. Ada yang merasa begitu, kah?

Padahal, Demam Berdarah Dengue adalah satu dari penyakit yang perkembangannya harus diwaspadai hingga kini.

Menurut data dari Kementrian Kesehatan RI, penderita DBD yang dicatat tertanggal 29 Januari 2019 lebih kurang sebanyak 13.683 pasien se-Indonesia. Jumlah tersebut jauh beda dari tahun sebelumnya.

Bahasan kita kali ini berhubungan dengan aku yang hadir di Meet-Up Healthies yang diselenggarakan oleh Kemenkes RI, hari Kamis – 7 Februari 2019. Makaaa.. ku ucapkan maakasi banyak atas kesempatan ini ya @blogggercrony Community *senyumdobelmanis

Rencananya, hanya ada dua pembicara yang akan berbagi ilmu. Tak disangka di tengah acara, hadirlah Buk Nila Moeloek- Menteri Kesehatan. Dalam suasana santai, Buk Menteri antusias berdiskusi dengan kami, blogers.

Dok.pribadi (moderator, dr Siti, Buk Menteri Nila, dan dr. Gia)

Di awal, Buk dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, selaku direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoontik dengan bahasan Penyakit DBD yang makin berkembang.

Dijelaskan bahwa tertularnya kita itu jika virus yang dibawa nyamuk berjenis Aedes Agepty dan Aedes Albopictus masuk dalam tubuh. Nyamuk tersebutlah jadi vektor DBD.

Dua jenis nyamuk tersebut berkembang biak dengan baik di daerah tropis, sehingga Indonesia rentan dengan penyakit DBD tersebut. Apalagi di musim hujan yang terdapat banyak genangan air.

Dulu, kita diakrabkan dengan usaha pencegahan penyakit DBD dengan istilah 3M. Masih ingat, kan? Kini, usaha kita haruslah naik tingkat karena penyakit tersebut pun mengalami perkembangan; diistilahkan, 3M-Plus.

Lebih sederhananya, 3M-Plus tersebut begini:

1. Menguras/ membersihkan tempat penampungan air secara berkala.
2. Menutup rapat penampungan air agar tak bisa dijadikan oleh nyamuk untuk berkembangbiak
3. Memanfaatkan/ mendaur ulang barang bekas pakai yang kemungkinan bisa jadi tempat berkembangbiak nyamuk

*plus-nya:
4. Menaburkan bubuk Abate di penampungan air agar sulit bagi nyamuk hidup disana
5. Menggunakan obat anti nyamuk
6. Menggunakan kelambu tidur
7. Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk
8. Menanam tanaman pengusir nyamuk
9. Mengatur cahaya dan sirkulasi udara rumah
10. Menghilangkan kebiasaan mengantung pakaian

Dok. pribadi (beberapa nama tanaman pengusir nyamuk)

Lebih serius lagi, ada namanya “Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik”. Disingkat dari: Juru Pemantau Jentik, usaha ini melibatkan seseorang memantau bagaimana kondisi dari tiap-tiap rumah warga; Pemantauan Jentik Berkala (PJB).

Dengan meningkatkan usaha-usaha pencegahan tersebut, diharapkan angka pasien terjangkit DBD menurun drastis. Kerjasama semua pihak sangat penting dan saling mempengaruhi. Mari bareng-bareng, yuk!

Sesi dengan dr. Gia Pratama membahas peran hidup sehat kita yang membantu bagaimana tubuh akan lebih kuat saat melawan penyakit dari virus, jamur atau bakteri yang ingin masuk untuk menguasai kesehatan.

Hidup sehat sering digaung-gaungkan, tapi masih banyak juga dari kita yang meremehkan atau takut akan ini-itu karena kurang pengetahuan. Kalau kita lihat dari sudut pandang positif, ambil sebagai contohnya berolahraga, kita bisa temukan cara yang pas untuk lakukan itu.

Pembahasan diakhiri dengan demo membuat “Lavitrap” dari botol dan barang bekas. Lavitrap ini semacam perangkap larva nyamuk yang sifatnya DIY, do it yourself. Dibimbing oleh tim dari UPT Kemenkes; Balai Besar Teknis Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit, Jakarta.

Dok. pribadi (arahan cara membuat Lavitrap)

Sekian duluuuk, cU~
@uniiyanisd

7 thoughts on “Demam Berdarah Dengue (DBD) di 2019: Mari Makin Perhatian, Healthies

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!