Uncategorized

Diabetes di 2019: ternyata DM pada anak-anak meningkat, harus bagaimana?

Hai kamU.. yang masih terus berusaha tetap istiqomah dalam jalurnya Healthies~

Berkat peringatan Hari Diabetes 2019, aku jadi punya konten untuk dibagi denganmu. Tiap tanggal 14 November, seakan jadi pengingat kita untuk kaji lagi bagaimana hubungan kita dengan si
Diabetes, yang merupakan salah satu dari si PTM a.k.a Penyakit Tidak Menular.

Hayuk dilanjut baca postingan kali ini, moga-moga menambah wawasan kamu untuk lebih awas sama-sama. Nah, jikalau kamu ingin sampaikan apa yang ada di pemikiranmu, jangan sungkan isi kolom komentar. Take yoUr time 🙂

DM ini kependekan untuk Diabetes Melitus

Pertama dan terutama sekali, kecintaan pada badan tempat diri ini bersemayam sangat diperlukan untuk jauh dari si DM ini. Secara data, DM tidak hanya menyerang manusia dewasa kini tapi anak-anak sudah masuk dalam sasarannya.

Kalau aku kaget ketika baru tau ternyata DM bisa juga bersarang pada usia anak-anak, semoga kamu juga kaget..eh~

Pada acara temu blogger dengan Kemenkes kemarin itu, paparan DM pada anak lebih difokuskan karena keluarga diharapkan jadi agen penekan angka penderita DM di Indonesia. Sebab, kita tak mungkin terlepas dari peran sebagai anggota keluarga yang tidak ingin orang yang dicintai menderita penyakit sebahaya DM ini.

Si DM pada anak-anak

Bedanya DM yang diderita anak-anak yaitu mereka membutuhkan insulin untuk menyembuhkan kondisi, sedangkan pada dewasa DM ditangani dengan konsumsi obat dalam bentuk tablet atau kapsul.

Istilah DM pada anak-anak ini yaitu DM tipe 1. Gejala yang bisa kamu perhatikan pada anak-anak, diantaranya kondisi berupa:
mudah lelah, padangan kabur, sering kencing, berat badan turun.

Lebih dini mendeteksi DM pada si anak, lebih besar pula peluangnya terhindar untuk masuk ke kondisi KAD. Ini singkatan dari yang istilahnya Ketoasidosis Diabetikum.

Menarik ini, resiko orang yang terkena DM tipe 1 ini tidak secara diturunkan tapi potensinya dimiliki tiap manusia. Kaitannya dengan cara dan gaya hidup kita yang semakin kesini semakin tidak sesuai dengan alaminya badan. Maksudnya, badan perlu digerakkan aktif tapi kitanya mageran (baca: apa pun cara yang bisa mengurangi aktifitas tubuh dituruti)

*p.s:
Smoga sehat-sehat dan hepii ya kamU..
Dapat salam untuk jaga ke-Healthies-an dari beberapa #BCCSquad yang sempat foto bersama nih~

Uniiyani SD

@uniiyanisd

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *