Obrolan Energi Terbarukan, Sadari Kini: Lebih Murah Tak Murahan

Uniiyani SD

Hi U~

Sebagai manusia yang tinggal di bumi, kondisi planet kita semakin hari semakin butuh aksi penyelamatan. Perbaikan dan penjagaan juga.

Istilah bumi semakin tua, krisis iklim, kerusakan lingkungan, kebutuhan energi, pemanasan global semakin sering digaungkan. Bahkan harus lebih sering sepertinya.

Banyak yang mendengar. Sayang sekali jika hanya sampai di situ. Padahal ada tanggung jawab untuk masa depan.

Perlu tindakan yang nyata dan berkelanjutan untuk mengubah tempat hidup kita bersama ini agar menjadi lebih baik.

manusia harus jaga bumi

Belajar dari pembahasan di siniar, ada energi terbarukan yang bisa jadi pilihan. Disebut energi terbarukan yaitu energi bersih, yang mesti semakin banyak digunakan agar rusaknya bumi tidak lebih parah.

Podcast Ramadan Vibes, persembahan GreenPeace dan KBR Prime padat ilmu. Narasumber dari latar belakang yang beragam juga memperdalam topik.

Obrolannya bersama Adila Isfandiari sebagai juru kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Gus Roy Murtadho dari Pesantren Ekologi Misykat al Anwar Bogor dan Amalia Narya dari Komunitas Solar Generation.

Energi Terbarukan dan Kondisinya Kini

Kehidupan sehari-hari mengonsumsi energi agar bisa berjalan dengan semestinya. Ada dua pengelompokan energi, yaitu energi kotor dan bersih.

Disebut energi kotor maksudnya ada emisi, zat sisa yang berdampak pada lingkungan dari pemrosesan sumber energi. Yang termasuk kategori ini yaitu pembakaran fosil, uap batu bara, minyak dan segala yang ditambang dari dalam bumi.

Energi bersih, terbarukan maksudnya penggunaan sumber energi yang langsung bisa didapat dari alam tanpa ada limbah dalam pemrosesan. Yaitu pemanfaatan dari panas matahari, kekuatan angin dan lainnya.

Paling potensial di Indonesia adalah energi terbarukan mode tenaga panel surya. Pemanfaatan sinar matahari sangat cocok untuk negara topis yang kaya dengan panas cahaya tersebut.

solar panel energi terbarukan cahaya matahari

Peluang untuk beralih ke energi terbarukan sangat besar. Ditambah pula dengan semakin majunya ilmu pengetahuan.

Kendalanya kini masih besar untuk sampai di kondisi energi terbarukan digunakan secara masif dan mendominasi. Transisi dari energi fosil tidak seperti ekspektasi sebab masih besarnya ketergantungan pada energi dari perut bumi tersebut.

Ada tiga hal yang bisa dilakukan untuk mempercepat adopsi energi terbarukan agar keselamatan bumi lebih cepat pula. Karena semakin lama energi fosil dikonsumsi, maka lebih besar pula efek buruknya.

Pertama, secara individu mengganti sumber energi yang digunakan sehari-hari ke panas matahari. Rumah dirancang dengan panel surya untuk sumber listrik.

Kedua, secara lingkup komunitas beralih ke penggunaan energi yang berasal dari pemanfaatan matahari, angin, air dan lainnya. Lewat kebersamaan itu, perancangan alat dan pendukungnya menjadi lebih mudah.

Ketiga, secara kerjasama banyak pihak. Semakin bertambahnya yang beralih ke energi terbarukan maka akan mendorong perhatian yang lebih besar pula untuk mengembangkan sumber energi tersebut.

Ketika dibandingkan biaya pengeluaran, maka pembanding mana dari energi kotor dan bersih yang lebih murah harus dalam perhitungan kompleks.

solar panel energi terbarukan cahaya matahari rumah

Tantang Kebiasaan: Lewat Permainan

Mengubah yang sudah jadi kebiasaan tidak bisa dibilang mudah, memang begitu. Namun ketika dipikir lagi dampaknya ke masa depan, harus bisa diusahakan.

Sangat perlu beradaptasi dengan hal baru, apalagi terkait dengan penyelamatan bumi. Ada cara yang menyenangkan dibuat agar tidak merasa berat sekali.

Yaitu kampanye Ummah4Earth, membuat permainan Truth or Dare pada situs https://tord.ummah4earth.org

Gunakan tagar untuk ikut mengampanyekan. Ini diantaranya: #Dare2gether #ChallangeToAction #Ummah4Earth #KrisisIklim #RamadanSeru

Bulan Ramadan yang penuh berkah ini diharap pula memberi berkah pada usaha kita untuk beraksi semampu kita memperbaiki keselamatan bumi.

~hUg, @uniiyanisd

Leave a Reply

Your email address will not be published.