Tuan Nona Sendiri: Momen 1

Jadi bagaimana Nona?

“Ngomong-ngomong nih ya.. kabar-kabarnya, kamu ada ‘perasaan’ sama si ini ya?” suara yang agak tertahan terdengar sembari menunjuk nama seseorang di kertas yang dipegang.

“Loh?” sebelah alis matanya terangkat, bingung. Pertanyaan macam apa yang barusan, pandangan matanya bertanya.

“…” tak berucap lagi, menunggu tanggapan lawan bicaranya.

“Cerita siapa? Dapat kabar darimana?” lanjut dengan pertanyaan dengan jawaban yang diujarkan.

“Yaa, kelihatan aja sih,” respon dengan suara yang lebih  normal sembari memperhatikan ekspresi yang muncul.

“Loh? Seriusan?  Bukannya kabar-kabarnya?” ditanggapi dengan keseriusan, segera gawai yang ada ditangannya digeletakkan. Posisinya berubah menjadi antusias. “Jadi penasaran kenapa kita jadi punya obrolan tentang ginian?”

“Iya yah.. penasaran aku ini kayaknya udah perlu disudahi”

“Ceritain tentang ini ke kamu, boleh?”

“Ayo aja, kan aku yang buka topic ini tadi”

“Iya. Oke”

“Jadi?”

“Iya, kalo maksud kata perasaan yang di konteks ini yaitu cinta. Tapi aku tak punya keyakinan apa ini kategori ‘benar-benar-cinta’. “

“Maksudnya, gimana nih?”

“Iya, aku mengalami yang kata orang-orang jatuh cinta itu tapi aku punya prinsip untuk diriku sendiri. Rasanya  udah ketuaan buatku untuk larut  kasmaran, ala-ala orang jatuh cinta  yang nurutin rasa banget. Hingga saat ini, terima kasih untuk logika ku yang lebih kuat hidup.”

“Kamu mengaku iya tapi kok rasa tidak sih?”

“Aneh ya? Ku juga tak paham bagaimananya.”

“Lalu? Yang mau kamu ceritain belum selesai, kan?”

“Belum selesai? Iya, aku bahkan tak tahu kapan selesainya. Dulunya, aku merasa aman karena circle-ku terasa jauh dengannya. Tak terjangkau malah. Itu jadi hal yang kusyukuri sembari berharap waktu bisa berteman denganku untuk  membiarkan rasaku itu mati dengan sendirinya. Tapi, ternyata malah berbeda setelah beberapa waktu. Ada kamu di irisan lingkaran. Entahlah, bagaimana nanti” suara terdengar mengambang.

“Dari dulu? Terdengarnya sudah dari lama sekali”

“Iya, salahin jari tanganku yang tergerak untuk ikuti akun  sosmednya dan ikutin cerita-cerita lewat postingannya. Pertama kali kamu sebut nama dia waktu jadi pembicara di ranah, aku tak tertarik malah aku terkagum-kagum dengan materi yang kamu  sampaikan.”

“Sekarang, bagaimana?”

“Entahlah, terima kasih buat kamu sudah bertanya. Kita lihat bagaimana nanti saja. Aku bukan pejuang cinta sendiri, jadi ya cukup. Cukup aku berjuang untuk diriku agar tetap waras.”

“Mau jadi bunga yang disamperin kumbang? Kan udah bukan jamannya lagi begitu.”

“Kamu benar, tapi aku ya begini. Katanya, jodoh tak akan kemana dan aku tak cukup kuat untuk  mendekat. Jadi aku akan tetap di posisi ini. Pertanyaan lagi? Mari lihat yang masa depan sediakan, nanti itu jawabannya,” senyumnya terpaksa mengembang.

*1 Maret.

13 Replies to “Tuan Nona Sendiri: Momen 1”

  1. Maestrobella says:

    Sepertinyaaa aku tahu dehh itu ceritanya buat siapa hmmm…

  2. Miss Riana says:

    Menarik mbak 😍 ditunggu cerita selanjutnya

  3. Putri ayu says:

    Mau ku viralkan cerita cinta absurd mu sis? Wkwk ayo tikung disepertiga malam 😚

  4. Sepertinya seru ini..jangan sampai ketinggalan lanjutannya nih. Tfs mb. .

  5. Cinta perlu diperjuangkan, tapi tidak sampai harus dikejar-kejar 😀

  6. NAD says:

    Jodoh yang misteri hmmm

    • Unii yani says:

      Misteri kehidupan begitu juga gak ya hahhaa lanjut ikutin ceritanya ke momen selanjutnya yakk. Makasii udah mampir NAD 🙂

  7. jadi penasaran dengan saya dan dia ^^

  8. Ubay says:

    Wah asik uni. Lnjutkn part berikunya

    Salam
    http://www.kidalnarsis.com

  9. afrizal says:

    Siapakah dia yang jatuh cinta dengan umur yang sudah tidak muda lagi? hehe..apakah ini penggalan novel yang akan dijadikan satu buku utuh?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!