Tentang Kusta dan Perlunya Kolaborasi

Uniiyani SD
kolaborasi pentahelix multi pihak

Hi U~

Kali ini tentang penyakit yang sering disebut dengan nama KUSTA. Penyakit Kusta sudah ada sejak lama namun masih saja angka pengidapnya besar sampai saat ini.

Seiring waktu pengobatan untuk pasien Kusta berkembang dan maju. Tapi hasil yang diharapkan belum juga tercapai. Sehingga kini sangat diperlukan kerjasama multi-pihak, kolaborasi pentahelix.

Secara data, penderita Kusta di Indonesia menduduki tiga besar dunia yang menyumbang kasus baru setiap tahun. Oleh karena itu, kolaborasi menjadi penting dari tingkat keluarga, pemerintah, akademisi, pelaku usaha, media dan semua pihak terkait.

Salah satu kolaborasi yaitu seperti yang dilakukan lewat talkshow Ruang Publik KBR, pada 12 April 2022 lalu dalam “Kolaborasi Pentahelix untuk atasi Kusta”.  Pembicaraan tersebut berisi ilmu untuk pemahaman yang lebih mendalam terhadap penyakit Kusta.

Sebab pembicara yang dihadirkan adalah Dr.dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) dan R. Wisnu Saputra yang merupakan Ketua Bidang Organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kab. Bandung.

Penyakit Kusta itu Penyakit Menular yang Paling Tidak Menular

Anggapan atau stigma buruk mengenai penyakit Kusta di masyarakat sudah sampai di tahap diskriminasi. Jika itu dulu maka ilmu kedokteran masih terbatas. Tapi kini, perkembangan penelitian semakin maju terhadap Kusta dan pengobatannya.

semakin maju penelitian pengobatan kesehatan

Dalam talkshow bersama KBR ini, dokter Flora menekankan berulang kali bahwa penyakit Kusta tidak semengerikan itu, yang informasinya tersebar di masyarakat. Karenanya, penting menyebar luaskan info yang benar dan terkini.

Penyakit Kusta atau Lepra ialah penyakit yang menyerang syaraf kulit, syaraf tepi dan saluran pernafasan. Penyakit ini ditularkan melalui cairan atau droplet ketika bersin dan batuk yang mengandung bakteri yang menginfeksi- Mycrobacterium leprae.

Yang menjadi poin pentingnya adalah percikan droplet dari penderita Kusta harus terus-menerus dulu mengenai seseorang hingga dinyatakan tertular dan ada jarak waktu yang lama pula bagi si bakteri untuk berkembang biak di tubuh calon penderita.

Gejala penyakit Kusta tidak langsung tampak. Ada kasus menunjukkan butuh waktu sekitar 20-30 tahun bagi seseorang terinfeksi.

Catatan pentingnya adalah bahwa penularan penyakit Kusta tidak semudah lewat:
– bersalaman
– duduk bersama
– diturunkan dari ibu ke janin

Untuk pengobatan, metode utamanya yakni antibiotik. Resep konsumsi antibiotik tergantung dengan tingkat/jenis Kusta yang diderita.

Di Indonesia, pengobatan penyakit Kusta menggunakan metode MDT yaitu Multi Drug Therapy. Serta ditambah operasi untuk kasus-kasus tertentu.

Aksi Bersama Terkait Kusta

Dalam talkshow ini, Pak Wisnu menyampaikan bahwa pemberian informasi mengenai Kusta kepada masyarakat perlu ditingkatkan hingga jadi langkah untuk mendorong penderita mau periksa dan mendapatkan pengobatan.

Penyebaran informasi yang benar tentang Kusta juga ditujukan kepada masyarakat supaya stigma dan anggapan buruk terhadap penderita menghilang dan diskriminasi juga meluntur.

Ada efek domino jika anggapan buruk kepada penderita Kusta terus menerus dibiarkan. Sebab tidak hanya kesehatan fisik saja yang terganggu.

Adalah empat aspek kesehatan yang terdampak dari stigma negatif tersebut. Pengucilan si penderita dari hidup bermasyarakat bukan hal yang baik untuk diteruskan. Berikut alasannya:

  1. Kesehatan mental/ psikis. Pasien pasti merasa tertekan karena mendapatkan penyakit yang membuat dirinya tidak semandiri biasanya. Ditambah dengan pandangan buruk dari orang sekitar, perasaan yang muncul dalam dirinya tentu didominasi oleh emosi buruk pula. Kondisi hati yang tidak baik akan berdampak pada susahnya menyembuhkan fisik yang sakit karena infeksi bakteri.
  2. Kesehatan sosial. Pasien yang juga menganggap dirinya buruk tentu mau tidak mau menarik diri dari pergaulan bermasyarakat. Dikucilkan dan mengucilkan diri sama saja ujungnya yaitu hubungan sosial antara pasien dan manusia lainnya terganggu.
  3. Kesehatan finansial. Pasien yang mendapatkan perlakuan diskriminasi bahkan dipecat dari pekerjaannya terntu saja berdampak kepada pendapatannya. Semakin sulit si pasien bekerja dan mendapat penghasilan maka semakin payah pula kebutuhan hidupnya terpenuhi.
  4. Kesehatan spiritual. Pasien yang biasanya pergi ke tempat ibadah untuk memenuhi kebutuhan rohani /spiritual tidak bisa leluasa. Tidak ada ketenangan dan kedamaian ketika semakin banyak mata dan perlakuan yang mendiskriminasi ditujukan kepadanya.

Nantinya ketika masyarakat sudah teredukasi tentang informasi yang benar terkait penyakit Kusta, maka diharapkan tidak mudah lagi stigma buruk menyebar. Apalagi di era digital sekarang, channel dan sumber informasi yang terpercaya semakin mudah dijangkau dan diakses.

Kolaborasi dalam aksi mengatasi perkembangan Kusta ini mudah-tidak-mudah. Semoga di masa depan, usaha yang kita lakukan hari ini lewat mengedukasi diri terkait informasi penyakit Kusta menunjukkan hasil. Semakin rendah angka penderitanya.

~hUg, @uniiyanisd

Leave a Reply

Your email address will not be published.