fiksi

Tuan Nona Sendiri – Momen 2

Tuan, tak mengapa.

Kaki bersepatu kets itu terus melangkah lalu berhenti di deretan kursi. Manik matanya mencari-cari sosok yang kira-kira familiar. Tak ada. Hembusan panjang nafasnya serasa berkata, untunglah tak ada yang ku kenal.

Kaki tadi kembali bergerak. Melanjutkan niat untuk menyendiri. Ke tempat asing berarti tempat untuk menenangkan diri. Pikiran si tuan terlalu hiruk-pikuk.

Tak sedikit orang berkata pada si tuan, kamu itu sempurna dan kelihatannya banyak yang ingin denganmu. Terkadang beberapa orang menambahkan, kamu telah dilangkahi kedua adikmu dan malah sudah ada dua ponakanmu lahir. Terlalu banyak kalimat-kalimat sejenis itu diterimanya, bahkan kini terlalu sering. Melebihi batas ketenangannya.

Langkah si tuan terhenti, ada keinginan untuk beristirahat setelah jalan kesana  kemari dan sekedar mengisi perut. Perlahan, ia berjalan ke dalam bangunan unik menarik di sampingnya. Ruangan itu tak cukup besar, terasa ramai tapi tenang. Beberapa orang masih dalam berdiri dalam antrian pesanan.

Nampan berisi segelas teh dan nasi goreng berpindah ke tangan si tuan. Berbalik badan, lalu beberapa saat ia tertegun. Meja yang tersedia tadinya tampak kosong ternyata kini seluruhnya ditempati pengunjung. Seseorang yang tadi berdiri antri di depannya menempati meja terakhir. Tapi itu meja berpasang dua kursi, ia bisa lah menggunakan satu kursi kosongnya.

Mau tak mau, wajah beramah-tamah dipersiapkan si tuan untuk menyapa dan sekedar meminta izin duduk makan bersama. Sembari mendekat, ia berujar dalam hati agar tetap tenang karena harusnya ia menyendiri tapi terpaksa bersosialisasi. Tak akan berlama-lama disini, ia membatin.

Setelah mengatakan permisi, mata si tuan bersua dengan mata yang disapa. Mata itu menyiratkan keterkejutan bersama wajah agak tegang dalam balutan hijab hitam. Si nona itu lalu melihatnya dengan tatapan bingung. Dengan tanggap, ia mengutarakan maksudnya untuk menempati kursi kosong yang tersisa di dekatnya.

Si nona mengangguk ramah, mempersilakan sembari menggeser barang-barangnya di meja. Memberi ruang. Dari sekilas, perawakannya yang  kecil terlihat sibuk. Isi gelas jus-nya pun terlihat diseruput dengan tak tenang. Tangannya kemudian beralih ke sendok, menyuap nasi dengan agak berhati-hati.

Saat meletakkan gelas teh, mata tuan bersirobok dengan mata nona. Lalu, mereka lanjut menghabiskan makanan masing-masing dalam diam. Saat si nona yang menaruh kembali gelas jus yang diminumnya, mata mereka bersua lagi.

Panggil aku Adam, ujar si tuan sambil tersenyum. Si nona mengalihkan pandangannya dari sendok untuk menyuap nasi ke wajah Adam. Raut muka terkejut muncul lagi, si nona terdiam sesaat.

Aku tahu kamu itu Adam yang dikenal semua orang, balas si nona. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke sendok dan lanjut makan.

Gerakan tangan nona terlihat lebih cepat menyuap makanannya. Beralih ke gelas jus, ia menyeruput dengan agak lebih lambat. Bersamaan dengan tangan kanannya meletakkan gelas, tangan kirinya mengambil tas untuk ia sandang kembali.

Sebelum sepenuhnya berdiri, nona berbasa-basi pamit. Adam refleks membalas dengan berbasa-basi mempersilakan. Mereka berpisah.

Hingga punggung si nona menghilang dari pintu keluar, mata Adam baru beralih ke nasi gorengnya yang masih ada setengah porsi lagi untuk dihabiskan. Di dekatnya, bekas piring si nona masih menyisakan seperempat porsi dan seperempat gelas jus juga tersisa.

Apa ini biasa, Adam bertanya.

-Maret, 20an-

*Bersabar, abis ini momen 3 yang tunggu aja tanggal tayangnya ya~
cU luuuv
@uniiyanisd

Uniiyani SD
@uniiyanisd

18 Replies to “Tuan Nona Sendiri – Momen 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *